Kamis, 14 Juni 2012

Menanti Berkah Dibawah Pohon Dewandaru


===================================================================

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Gunung Kawi Jawa Timur selalu dimitoskan sebagai sarana pesugihan. Padahal sebenarnya tempat ini adalah punden Eyang Jogo. Namun karena pandangan miring itu sudah melekat dalam masyarakat, maka gunung Kawi tersebut dianggap mempunyai kekeramatan dalam hal perburuan harta kekayaan gaib lewat ritual pesugihan. Berburu pesugihan memang tidak boleh gegabah dan harus berpasrah diri. Dalam do’a pun, juga demikian. Keinginan supaya bisa menjadi kaya, bisa datang lebih cepat dari harapan, tetapi dapat juga malah sebaliknya. Pada ranah pesugihan, dikenal pesugihan Pohon Dewadaru.
Warga masyarakat Jawa mengenal satu tradisi yang sudah ratusan bahkan ribuan tahun umurnya. Yakni, tradisi berburu kekayaan lazimnya disebut pesugihan. Untuk menggapainya ilmu tersebut (pesugihan) bukan perkara mudah. Karena dipercaya pelaku (orang bersangkutan) wajib menumbalkan nyawa, dari salah seorang anggota keluarganya, bisa istri, anak, menantu atau yang lainnya.
Kendati besar tebusan sekaligus resiko yang wajib dibayar, akan tetapi anehnya jumlah orang yang memburunya berkecenderungan terus bertambah pada setiap tahunnya. Hal itu berarti banyak orang yang ingin kaya raya dengan cara melakukan ritual pesugihan. 
Media permohonan pesugihan, bermacam-macam. Bisa melalui punden, makam, sendang, pohon, dan bentuk tempat keramat lain. Guna terkabulnya niatan itu, pelaku wajib atur sesaji pada penunggu gaib tempat tersebut. Fungsinya, yaitu untuk memanggil supaya penunggu gaib berkenan muncul sekaligus mendengar permintaan si pelaku. Dipercaya bahkan diyakini oleh sebagian orang terutama para pemburu kekayaan, saat melakukan doa, siapapun orangnya tidak boleh sembarangan.
Etika yang harus diikuti, antara lain harus santun, sabar dan fokus dengan apa yang diminta.  Semua hidupnya, digambarkan harus diserahkan terhadapnya, si penunggu gaib tempat keramat tersebut. Berperilaku seperti itu, memang tidak gampang, namun demi satu tujuan yang sudah diperhitungkan untung dan ruginya, pelaku mau tidak mau harus mengerjakannya dengan sepenuh hati. Agar penunggu gaib tempat keramat tersebut, bersedia menerima doanya.

B.     Rumusan Masalah
1.      Mengapa beberapa peziarah memilih pohon dewandaru sebagai tempat ritual di Gunung Kawi?
2.      Bagaiamana motivasi para peziarah dalam melakukan ritual disekitar pohon dewandaru?

C.    Tujuan Penelitian
1.      Mengetahui alasan para peziarah melakukan ritual pada salah satu tempat sakral di area Gunung Kawi.
2.      Mengamati motivasi-motivasi yang timbul pada peziarah saat melakukan ritual disekitar pohon dewandaru.



===================================================================

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.    Pengertian Ritual
Ritual adalah serangkaian kegiatan yang dilaksanakan terutama untuk tujuan simbolis. Ritual dilaksanakan berdasarkan suatu agama atau bisa juga berdasarkan tradisi dari suatu komunitas tertentu. Kegiatan-kegiatan dalam ritual biasanya sudah diatur dan ditentukan, dan tidak dapat dilaksanakan secara sembarangan.
Menurut Bustanuddin (2006), ritual adalah kata sifat (adjective) dari rites dan juga ada yang merupakan kata benda. Sebagai kata sifat, ritual adalah segala yang dihubungkan atau disangkutkan dengan upacara keagamaan. Kepercayaan kepada kesakralan sesuatu yang menuntut ia diperlukan secara khusus. Masudnya adalah ada suatu tata cara perlakuan terhadap sesuatu yang disakralkan. Dalam agama, upacara ritual atau ritus itu biasa dikenal dengan ibadat, kebaktian, berdoa, atau sembahyang. Setiap agama mengajarkan berbagai macam ibadat, doa, dan bacaan-bacaan pada momen tertentu.
Dalam antropologi, upacara ritual dikenal dengan istilah ritus. Ritus dilakukan ada yang mendapatkan berkah atau rezeki yang banyak dari suatu pekerjaan, seperti upacara sacral ketika akan turun ke sawah, ada untuk menolak bahaya yang telah atau diperkirakan akan dating. Ritus berhubungan dengan kekuatan supernatural dan kesakralan tertentu. Irtual sama dengan ibadah dalam arti sempit. Sedangkan agama pada umumnya tidaklah mengatur cara melaksanakan ritual saja. Ia juga memberikan aturan dan pedoman dalam hubungan dengan sesame manusia dan dengan alam sekitar.
Ada tata tertib tertentu harus dilakukan dan ada pula larangan atau pantangan yang harus dihindari yakni taboo. Taboo atau pantangan adalah suatu pelarangan social yang kuat terhadap kata, benda, tindakan, atau orang yang dianggap tidak diinginkan oleh suatu kelompok, budaya, atau masyarakat. Pelanggaran taboo biasanya tidak dapat diterima dan dianggap menyerang. Beberapa tindakan atau kebiasaan yang bersifat taboo bahkan dapat dilarang secara hukum dan pelanggarannya dapat menyebabkan pemberian sanksi keras. Taboo juga dapat membuat malu, aib, dan perlakuan kasar dari sekitar. Taboo juga dipakaikan kepada pelanggaran yang sangat prinsipil dalam ajaran suatu agama atau kepercayaan masyarakat seperti zina.

B.     Pengertian Motivasi
Motif seringkali diartikan dengan istilah dorongan. Dorongan atau tenaga tersebut merupakan gerak jiwa dan jasmani untuk berbuat. Jadi motif tersebut merupakan suatu driving force yang menggerakkan manusia untuk bertingkah-laku, dan di dalam perbuatannya itu mempunyai tujuan tertentu. Setiap tindakan yang dilakukan oleh manusia selalu di mulai dengan motivasi (niat). Menurut Wexley & Yukl (dalam As’ad, 1987) motivasi adalah pemberian atau penimbulan motif, dapat pula diartikan hal atau keadaan menjadi motif. Sedangkan menurut Mitchell (dalam Winardi, 2002) motivasi mewakili proses- proses psikologikal, yang menyebabkan timbulnya, diarahkanya, dan terjadinya persistensi kegiatan- kegiatan sukarela (volunter) yang diarahkan ke tujuan tertentu.
Sedangkan menurut Gray (dalam Winardi, 2002) motivasi merupakan sejumlah proses, yang bersifat internal, atau eksternal bagi seorang individu, yang menyebabkan timbulnya sikap antusiasme dan persistensi, dalam hal melaksanakan kegiatan- kegiatan tertentu.
Morgan (dalam Soemanto, 1987) mengemukakan bahwa motivasi bertalian dengan tiga hal yang sekaligus merupakan aspek- aspek dari motivasi. Ketiga hal tersebut adalah: keadaan yang mendorong tingkah laku (motivating states), tingkah laku yang di dorong oleh keadaan tersebut (motivated behavior), dan tujuan dari pada tingkah laku tersebut (goals or ends of such behavior). McDonald (dalam Soemanto, 1987) mendefinisikan motivasi sebagai perubahan tenaga di dalam diri seseorang yang ditandai oleh dorongan efektif dan reaksi- reaksi mencapai tujuan. Motivasi merupakan masalah kompleks dalam organisasi, karena kebutuhan dan keinginan setiap anggota organisasi berbeda satu dengan yang lainnya. Hal ini berbeda karena setiap anggota suatu organisasi adalah unik secara biologis maupun psikologis, dan berkembang atas dasar proses belajar yang berbeda pula (Suprihanto dkk, 2003).
Soemanto (1987) secara umum mendefinisikan motivasi sebagai suatu perubahan tenaga yang ditandai oleh dorongan efektif dan reaksi-reaksi pencapaian tujuan. Karena kelakuan manusia itu selalu bertujuan, kita dapat menyimpulkan bahwa perubahan tenaga yang memberi kekuatan bagi tingkahlaku mencapai tujuan,telah terjadi di dalam diri seseorang.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah energi aktif yang menyebabkan terjadinya suatu perubahan pada diri sesorang yang nampak pada gejala kejiwaan, perasaan, dan juga emosi, sehingga mendorong individu untuk bertindak atau melakukan sesuatu dikarenakan adanya tujuan, kebutuhan, atau keinginan yang harus terpuaskan.

1.      Motivasi menurut Abraham Maslow

           a.                   Kebutuhan fisiologis (physiological needs)
                                    Kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan manusia yang paling mendasar, termasuk di dalamnya adalah makanan, air, oksigen, mempertahankan suhu tubuh, dan lain-lain. Kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan yang mempunyai kekuatan atau pengaruh paling besar dari semua kebutuhan (Feist,2009).
b.                  Kebutuhan akan keamanan (safety needs)
                        Ketika manusia telah memenuhi kebutuhan fisiologisnya, maka manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan akan keamanan, yang termasuk di dalamnya adalah keamanan fisik, stabilitas, ketergantungan, perlindungan, dan kebebasan dari kekuatan-kekuatan yang mengancam, seperti perang, terorisme, penyakit, rasa takut, kecemasan, bahaya, kerusuhan, dan bencana alam. Kebutuhan akan hokum, ketenteraman, dan keteraturan juga merupakan bagian dari kebutuhan akan keamanan (Feist,2009).
Dalam tingkatan kebutuhan ini, anak-anak lebih sering termotivasi olehkebutuhan akan rasa aman karena mereka hidup dengan ketakutan akan gelap, binatang, orang asing, dan hukuman dari orang tua. Namun, sebagian besar orang dewasa cenderung merasa tidak aman karena ketakutan yang tidak masuk akal dari masa kecil yang terbawa hingga masa dewasa dan menyebabkan mereka bertindak seolah merasa takut akan hukuman dari orang tua. Mereka menghabiskan lebih banyak energy daripada energiyang dibutuhkan orang yang sehat untuk memenuhi kebutuhan akan rasa aman dan ketika mereka tidak berhasil memenuhi kebutuhan rasa aman tersebut, mereka akan mengalami kecemasan dasar (basic anxiety) (Feist,2009).
c.                   Kebutuhan akan cinta dan keberadaan (love ang belongingness needs)
                                    Setelah seseorang memenuhi kebutuhan fisiologis dan rasa amannya, mereka menjadi termotivasi oleh kebutuhan akan cinta dan keberadaan (love and belongingness), seperti keinginan untuk berteman, keinginan untuk mempunyai pasangan dan anak, kebutuhan untuk menjadi bagian dari keluarga, sebuah perkumpulan, lingkungan masyarakat, atau Negara. Cinta dan keberadaan juga mencakup beberapa aspek dari seksualitas dan hubungan dengan manusia lain dan juga kebutuhan untuk member dan mendapatkan cinta (Feist,2009).
                                    Orang yang kebutuhan akan cinta dan keberadaannya cukup terpenuhi sejak dari masa kecil tidak menjadi panic ketika cintanya ditolak. Orang yang semacam ini mempunyai kepercayaan diri bahwa mereka akan diterima oleh orang-orang yang penting bagi mereka. Jadi, ketika orang lain menolak mereka, mereka tidak merasa hancur (Feist,2009).
                                    Kelompok kedua adalah kelompok yang terdiri dari orang-orang yang tidak pernah merasakan cinta dan keberadaan.Oleh karena itu, mereka menjadi tidak mampumemberikan cinta. Maslow percaya bahwa orang-orang semacam ini lama-kelamaan akan belajar untuk tidak mengutamakan cinta dan terbiasa dengan ketidakhadiran cinta (Feist,2009).
                                    Kelompok ketiga adalah orang-orang yang menerima cinta dan keberadaan hanya dalam jumlah yang sedikit.Oleh karena hanya menerima sedikit cinta dan keberadaan, maka mereka sangat termotivasi untuk mencarinya. Dengan kata lain, orang yang menerima sedikit cinta mempunyai kebutuhan akan kasih sayang dan penerimaan yang lebih besar daripada orang yang menerima cinta dalam jumlah cukup atau tidak menerima cinta sama sekali (Feist,2009).
d.             Kebutuhan akan penghargaan (esteem needs)
Setelah kebutuhan akan cinta dan keberadaaan terpenuhi, orang-orang cenderung bebas untuk mengejar kebutuhan akan penghargaan, yang mencakup penghormatan diri, kepercayaan diri, kemampuan, dan pengetahuan yang orang lain hargai tinggi. Maslow (1970) mengidentifikasi dua tingkatan kebutuhan akan penghargaan yaitu reputasi dan harga diri. Reputasi adalah persepsi akan gengsi, pengakuan, atau ketenaran yang dimiliki seseorang dilihat dari sudut pandang orang lain. Sedangkan harga diri adalah perasaan pribadi seseorang bahwa dirinya bernilai atau bermanfaat dan percaya diri. Harga diri menggambarkan sebuah keinginan untuk memperoleh kekuatan, pencapaian atau keberhasilan, kecukupan, penguasaan, kemampuan, dan kepercayaan diri di hadapan orang lain (Feist,2009).
e.              Kebutuhan akan aktualisasi diri (self actualization needs)
                                    Setelah semua kebutuhan pada tingkatan yang rendah terpenuhi, orang secara otomatis beranjak pada tingkatan berikutnya. Akan tetapi, setelah kebutuhan akanpenghargaan terpenuhi, orang tidak selalu bergerak menutu tingkat aktualisasi diri. Orang-orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai seperti kejujuran, keindahan, keadilan, dan lainnya akan mengaktualisasikan dirinya setelah kebutuhan akan penghargaannya terpenuhi, sememntara orang-orang yang tidak memiliki nilai-nilai tersebut tidak akan mengaktualisasikan dirinya walaupun mereka telah memenuhi masing-masing dari kebutuhan-kebutuhan dasar lainnya (Feist,2009).
                                    Menurut Maslow (1970), Kebutuhan akan aktualisasi diri mencakup pemenuhan diri, sadar akan semua potensi diri, dan keinginan untuk menjadi sekreatif mungkin. Orang-orang yang telah mencapai level aktualisasi diri menjadi manusia yang seutuhnya, memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang orang lain hanya melihat sekilas atau bahkan tidak pernah melihatnya (Feist,2009).


 ===================================================================

BAB III
METODE PENELITIAN
A.    Desain Penelitian
      Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif adalah metode penelitian yang menghasilkan dan mengolah data yang bersifat deskriptif. Pada penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan metode observasi dan wawancara. Penggunaan metode ini dimaksudkan untuk memperoleh data otentik jawaban dari tujuan penelitian yang telah dirumuskan. Peran peneliti dalam penelitian ini adalah sebagai partisipan total. Yang dimaksud dengan partisipan total ialah peneliti terjun langsung dalam penelitian, peneliti juga ikut melakukan aktivitas-aktivitas yang dilakukan subjek, dan keberadaan peneliti tidak diketahui oleh subjek.
B.     Fokus Penelitian
Pada penelitian ini, peneliti ingin fokus meneliti tentang hal-hal apa saja yang dilakukan peziarah saat berada disekitar pohon yang dikeramatkan (pohon dewandaru). Dan juga melihat pengaruh sugesti yang membuat mereka berada disekitaran pohon dewandaru.
C.    Subjek Penelitian
Teknik pengambilan subjek dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik purposive sampling, yaitu suatu teknik pengambilan subjek penelitian dengan pertimbangan tertentu. Sebelum melaksanakan penelitian, terlebih dahulu peneliti membuat karakteristik subjek yang akan diteliti. Karakteristik subjek pada penelitian ini ialah orang dewasa yang sedang berada di kawasan pesarean.
Peneliti mengambil subjek dengan kisaran umur diatas 30 tahun. Dimana subjek seperti ini sudah bisa membantu memberikan jawaban-jawaban yang realistis dari pertanyaan-pertanyaan yang diberikan peneliti.
D.    Lokasi Penelitian            
Dalam penelitian ini, peneliti memilih kawasan pesarean Gunung Kawi sebagai lokasi penelitian. Dan difoukuskan pada tempat sekitar pohon dewandaru. Dengan landasan, di kawasan pesarean pengunjung melakukan ritual-ritual yang sesuai dengan rumusan masalah pada penelitian ini.
E.     Teknik Pengumpulan Data
Pada penelitian ini, teknik yang digunakan ialah:
1.      Observasi
Observasi merupakan pengamatan langsung dengan menggunakan panca indera terhadap kegiatan yang sedang dilaksanakan. Dalam pelaksanaan observasi dapat dilakukan secara langsung peneliti ikut berpartisipasi dalam kegiatan dan dapat juga tidak ikut dalam kegiatan yang sedang diteliti. Pada pelaksanaan penelitian, peneliti mempergunakan teknik observasi, dengan maksud untuk dapat mengamati lebih seksama unsur-unsur yang diteliti.
Pelaksanaan penelitian ini berfokus pada motivasi pengunjung datang ke pesarean. observasi dilaksanakan selama proses wawancara dan termasuk ke dalam jenis observasi tidak terstruktur.
2.      Wawancara
Wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang utama dalam penelitian kualitatif, melalui wawancara dapat dilakukan kegiatan percakapan langsung dengan responden. Terdapat 3 macam teknik dalam wawancara, yakni wawancara terstruktur, semiterstruktur, dan tidak terstruktur. (1) Wawancara terstruktur, teknik ini digunakan untuk mendapatkan data apabila peneliti telah mengetahui dengan pasti tentang informasi apa yang akan diperoleh; (2) Wawancara semiterstruktur, pemakaian teknik ini dimaksudkan untuk membuka permasalahan yang lebih luas sehingga diharapkan gagasan dan ide dari para responden/ informan tentang permasalahan tersebut; (3) Wawancara tidak berstruktur, ada dua jenis wawancara tidak berstruktur, yaitu wawancara yang berfokus dan wawancara bebas. Wawancara berfokus terpusat kepada satu pokok masalah tertentu, sedangkan wawacanra bebas pertanyaan yang beralih-alih dari satu pokok masalah ke pokok yang lain, sepanjang berkaitan dengan dan menjelaskan aspek-aspek masalah yang diteliti.
Dalam penelitian ini, peneliti hanya menggunakan 1 macam teknik wawancara, yakni wawancara tidak terstruktur. Wawancara tidak terstruktur dilakukan peneliti melalui kegiatan wawancara dengan subjek.
3.      Dokumentasi
Studi dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data dengan menghimpun berbagai informasi berupa catatan-catatan, laporan, arsip dan peristiwa yang terekam, yang berhubungan dengan kegiatan yang diteliti kemudian menganalisisnya. Tujuan adalah mendukung  dan melengkapi data dan informasi yang dikumpulkan melalui observasi dan wawancara. Pada teknik ini, peneliti mengumpulkan data yang berhubungan dengan Gunung Kawi dan pohon dewandaru.
F.     Teknik Analisa Data
Analisa yang dimaksud adalah upaya mencari dan menata secara sistematis catatan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi untuk meningkatkan pemahaman peneliti tentang persoalan yang diteliti.
Teknik analisa data yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah metode coding. Terdapat 3 model coding yang digunakan dalam penelitian. Diantaranya ialah:
1.      Open Coding
Open coding merupakan proses untuk mengurai, menelaah, mengartikan data, membandingkan, mengkategorisasikan data-data yang diperoleh dari wawancara dan observasi.
2.      Axial Coding
Axial coding merupakan prosedur yang diarahkan untuk melihat keterkaitan antara kategori-kategori yang dihasilkan melalui open coding. Dalam axial coding terdapat beberapa kondisi yang dapat digunakan untuk melihat saling keterkaitan itu:
a.       Fenomena utama (central phenomenon)
b.      Kondisi yang menjadi penyebab (causal conditions)
c.       Konsekuensi atau hasil dari suatu aksi atau interaksi (consequences)
d.      Aksi atau interaksi atau strategi untuk merespon atau menangani satu fenomena (strategies)
e.       Konteks atau situasi tertentu tempat atau yg mempengaruhi terjadinya aksi, interaksi, atau strategi (context)
f.       Intervening conditions atau structural conditions yg mem-fasilitasi atau menghambat dikembangkan suatu strategi tertentu
3.      Selective Coding
Selective coding merupakan satu proses rekonseptualisasi kategori pokok dalam satu cerita atau narasi. Narasi ini diarahkan untuk menggambarkan dan menjelaskan dinamika fenomena utama yang menjadi fokus penelitian dalam satu bentuk yang integratif.
G.    Keabsahan Data
Dalam penelitian kualitatif, keabsahan data merupakan usaha untuk meningkatkan kepercayaan data. Uji keabsahan data dalam penelitian ini menggunakan validitas dan reabilitas, karena hal tersebut adalah syarat utama yang menjadi penilaian ilmiah sebuah penelitian.

  
       Dalam validitas terdapat beberapa jenis validasi, yakni:
1.      Reflective Validity
Validitas ini mengandung maksud agar aspek/variabel terukur hendaknya dapat merefleksikan variabel yang sebenarnya hendak diukur.
2.      Ironic Validity
Proses ini, peneliti mengkatagorikan keadaan-keadaan di lapangan yang dapat menguatkan central phenomenon.
3.      Neo-pragmatic Validity
Validitas ini adalah kebenaran ilmu yang diperoleh berdasarkan kajian teoritis dan kerangka berpikir penelitian si peneliti, yang pada dasarnya mengutamakan kritik  terhadap berbagai macam masalah yang dihadapi.
4.      Rhizomatic Validity
Validitas ini mencoba untuk memberi gambaran bahwa tidak ada peristiwa yang terjadi secara linear, namun dengan perhatian yang tinggi, setiap peristiwa itu dapat dipahami dan diungkap banyak cerita sebagai kebenaran yang sahih.
5.      Situated Validity
6.      Sedangkan validitas ini memberikan contoh  kebenaran validitas feminist dalam situasi dominasi pengaruh pria. Dimana wanita ingin mengekspresikan perilakunya, tampilannya, emosinya, sifat keibuannya secara beragam.



Sama halnya dengan validitas, reabilitas yang digunakan peneliti dalam penelitian ini juga terdapat beberapa jenis, yakni:
a.       Quixotic Reliability
Reliabilitas ini berdasarkan kondisi di lapangan. Penggunaan satu macam metode (observasi) yang secara teratur dilakukan di lapangan akhirnya akan meng-hasilkan satu ukuran yang tidak berubah. Kelemahan reliabilitas ini adalah sangat tergantung pada kualitas pengelolaan data peneliti.
b.      Diachronic Reliability
Reliabilitas ini menekankan pada  persamaan kegiatan pengukuran (temuan) yang selalu berbeda disetiap waktu. Karenanya data/informasi akan mengalir sesuai dengan konteks kesejarahannya. Dari sanalah dapat dipahami adanya keragaman & persamaan.
c.       Synchronic Reliability
Reliabilitas ini mengacu pada kesesuaian data/informasi di setiap kegiatan pengumpulan data. Dalam mengamati perilaku manusia seringkali didapati adanya persamaan sikap, motif & perilaku.


 ====================================================================

BAB IV
PEMBAHASAN
Gunung Kawi Jawa Timur selalu dimitoskan sebagai sarana pesugihan. Padahal sebenarnya tempat ini adalah punden Eyang Jogo. Namun karena pandangan miring itu sudah melekat dalam masyarakat, maka gunung Kawi tersebut dianggap mempunyai kekeramatan dalam hal perburuan harta kekayaan gaib lewat ritual pesugihan. Berburu pesugihan memang tidak boleh gegabah dan harus berpasrah diri. Dalam do’a pun, juga demikian. Keinginan supaya bisa menjadi kaya, bisa datang lebih cepat dari harapan, tetapi dapat juga malah sebaliknya. Pada ranah pesugihan, dikenal pesugihan Pohon Dewadaru.
Warga masyarakat Jawa mengenal satu tradisi yang sudah ratusan bahkan ribuan tahun umurnya. Yakni, tradisi berburu kekayaan lazimnya disebut pesugihan. Untuk menggapainya ilmu tersebut (pesugihan) bukan perkara mudah. Karena dipercaya pelaku (orang bersangkutan) wajib menumbalkan nyawa, dari salah seorang anggota keluarganya, bisa istri, anak, menantu atau yang lainnya.
Kendati besar tebusan sekaligus resiko yang wajib dibayar, akan tetapi anehnya jumlah orang yang memburunya berkecenderungan terus bertambah pada setiap tahunnya. Hal itu berarti banyak orang yang ingin kaya raya dengan cara melakukan ritual pesugihan. 
Media permohonan pesugihan, bermacam-macam. Bisa melalui punden, makam, sendang, pohon, dan bentuk tempat keramat lain. Guna terkabulnya niatan itu, pelaku wajib atur sesaji pada penunggu gaib tempat tersebut. Fungsinya, yaitu untuk memanggil supaya penunggu gaib berkenan muncul sekaligus mendengar permintaan si pelaku. Dipercaya bahkan diyakini oleh sebagian orang terutama para pemburu kekayaan, saat melakukan doa, siapapun orangnya tidak boleh sembarangan.
Etika yang harus diikuti, antara lain harus santun, sabar dan fokus dengan apa yang diminta.  Semua hidupnya, digambarkan harus diserahkan terhadapnya, si penunggu gaib tempat keramat tersebut. Berperilaku seperti itu, memang tidak gampang, namun demi satu tujuan yang sudah diperhitungkan untung dan ruginya, pelaku mau tidak mau harus mengerjakannya dengan sepenuh hati. Agar penunggu gaib tempat keramat tersebut, bersedia menerima doanya.
Pohon dewandaru merupakan pohon tua dan dikeramatkan sekaligus dipercaya bisa mendatangkan keberuntungan atau pesugihan. Pohon itu terdapat di area pesarean Gunung Kawi, masuk wilayah Kabupaten Malang, Jatim. Masyarakat menamai pohon Dewadaru tersebut sebagai pohon pesugihan.
Bahkan ada juga yang menamainya sebagai pohon kesabaran. Dalam keyakinan masyarakat Tiong Hoa, Dewadaru, jenisnya termasuk jenis Pohon Shianto atau pohon Dewa. Siapapun yang kejatuhan pohon ini, dipercaya bisa menjadi kaya raya. Hanya saja, untuk mendapatkan daunnya, tidak boleh dipetik atau dipanjat pohonnya dan juga tidak boleh diambil dengan galah.
Akan tetapi, yang bersangkutan harus duduk bersila, sambil terus memanjatkan doa tanpa putus sembari menunggu jatuhnya helai demi helai daun pohon keramat tersebut.  Ketika jatuh, puluhan orang yang ada di bawah, langsung berebut untuk mengambilnya.
Selanjutnya daun dibungkus dengan selembar uang, kemudian disimpan di dalam dompet. Seperti itulah satu mitos soal pohon Dewadaru, yang dipercaya daunnya bisa membuat manusia menjadi kaya raya.  
Dalam sejarahnya, pohon yang mirip pohon crème ini, ditanam oleh Eyang Jugo dan Eyang Sujo, sebagai perlambang daerah gunung Kawi dan sekitarnya aman sejahtera. Eyang Jugo dan Eyang Sujo, dimakamkan di satu liang lahat. Lokasinya, tak jauh dari tumbuhnya pohon tersebut.
Keduanya dulunya merupakan pejuang, bala tentara Pangeran Diponegoro. Eyang Jugo atau Kyai Zakaria II dan Eyang Sujo Atau Raden Mas Iman Sudjono adalah Bhayangkara terdekat Pangeran Diponegoro.

Pada tahun 1830 saat perjuangan terpecah belah oleh siasat adu domba kompeni, dan Pangeran Diponegoro tertangkap kemudian diasingkan ke Makasar. Sedangkan Eyang Jugo dan Eyang Sujo mengasingkan diri ke wilayah gunung Kawi itu.
Motivasi mereka datang untuk melakukan ritual di bawah pohon Dewandaru dipengaruhi oleh keinginan-keinginan yang ada dalam diri mereka sendiri. Keinginan-keinginan yang ada seperti menjadi kaya, sukses dan rejekinya lancar, tetapi ada juga yang mempunyai keinginan agar anaknya sembuh dari penyakit.
Teori milik Abraham Maslow juga dapat kita dekatkan dengan fenomena ini. Abraham Maslow mengemukakan bahwa pada dasarnya semua manusia memiliki kebutuhan pokok. Kebutuhan-kebutuhan pokok tersebut sering kita sebut sebagai Hirarki Kebutuhan Maslow. Disini ada kebutuhan dari Hirarki Kebutuhan Maslow yang belum terpenuhi, yakni kebutuhan akan penghargaan serta kebutuhan aktualisasi diri.
Disini subjek pernah mengalami kegagalan serta usaha yang subjek tekuni belum sukses. Hal tersebut membuatnya merasa belum berprestasi dan tidak berkompetensi. Karena belum terpenuhinya kebutuhan tersebut, mendorong subjek untuk rutin mendatangi gunung kawi agar kebutuhan akan penghargaan lebih cepat terpenuhi. Sedangkan tidak terpenuhnya kebutuhan aktualiasi diri terjadi karena subjek belum memenuhi hirarki kebutuhan yang ke 4 yakni kebutuhan akan penghargaan. Maslow menjelaskan, individu tidak akan bisa memenuhi kebutuhan tertinggi atau kebutuhan yang ke 5 sebelum kebutuhan-kebutuhan yang sebelumnya terpenuhi.

====================================================================

BAB V
PENUTUP

Dari penjelasan pada halaman-halaman sebelumnya, dapat saya simpulkan bahwa keyakinan dan motivasi mempengaruhi individu berperilaku, berfikir, serta cara pandang. Seperti yang terjadi pada subjek kami. Adanya interaksi sosial membuat prilaku, berfikir, serta cara pandang subjek kami berubah. Karena adanya sugesti dari temannya, subjek sangat sering mendatangi gunung Kawi, untuk memperoleh hal-hal yang telah temannya ceritakan. Dan juga faktor imitasi dari pengunjung Gunung Kawi yang sebelumnya subjek mendatangi gunung kawi dan melakukan ritual-ritual seperti yang peziarah lain lakukan.
Disini subjek yang saya teliti merasa masih kurang puas dengan apa yang dia dapatkan. Subjek masih menginginkan usaha yang ia geluti bisa lebih berkembang lagi. Karena hal tersebut subjek sering datang ke pesarean gunung Kawi untuk meminta agar usaha yang ia geluti bisa lebih berkembang dan ia lebih sukses. Karena belum terpenuhinya kebutuhan tersebut, mendorong subjek untuk rutin mendatangi gunung kawi agar kebutuhan akan penghargaan lebih cepat terpenuhi.

====================================================================

DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Motivasi 
http://id.wikipedia.org/wiki/Ritual

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar